Senin, Juli 27, 2009

Cokelat Tingkatkan Fungsi Otak

SEBAGAI makanan, cokelat punya banyak status. Selain dianggap sebagai makanan paling favorit di dunia, cokelat bahkan dianggap sebagai makanan paling romantis. Seorang kekasih akan senang apabila menerima sebungkus atau sekotak cokelat sebagai ungkapan sayang. Kegemaran banyak orang terhadap cokelat ternyata cukup beralasan karena dengan mengonsumsi cokelat ternyata bisa meningkatkan fungsi otak, baik bagi pria ataupun wanita.

Hasil penelitian terkini mengindikasikan menikmati cokelat susu akan meningkatkan fungsi otak.
"Cokelat mengandung banyak unsur yang menjadi stimulan, antara lain theobromine, phenethylamine, dan kaffeine," kata peneliti dari Universitas Wheeling Jesuit di West Virginia Bryan Raudenbush.

Lewat penelitian itu, Raudenbush mengatakan, senyawa-senyawa baru dalam cokelat telah ditemukan.
Sebelumnya bersifat meningkatkan tingkat kesadaran dan kemampuan berkonsentrasi dan apa yang diketahui kemudian adalah dengan mengonsumsi cokelat dapat meningkatkan fungsi otak dan menambah peningkatan performa mental.

Bryan Raudenbush dan rekan-rekannya mengatakan, penelitian terhadap kemampuan otak telah dilakukan terhadap sejumlah relawan yang mengonsumsi cokelat dalam beberapa jenis dalam empat kejadian terpisah.
Kelompok pertama mengonsumsi 85 gram batangan cokelat susu, kelompok kedua 85 gram cokelat hitam, kelompok ketiga mengonsumsi 85 gram carob, dan kelompok keempat tidak mengonsumsi apa pun.

Setelah 15 menit berselang, para relawan dalam penelitian ini menjalani beberapa tes neuropsikologis yang didesain untuk melihat performa kognitif, termasuk daya ingat, daya konsentrasi, kemampuan bereaksi, dan kemampuan memecahkan masalah. "Nilai bagi daya ingat verbal maupun visual tertinggi diperoleh oleh mereka yang mengonsumsi batangan cokelat susu dibandingkan dengan ketiga kelompok lainnya," katanya.

Peningkatan daya ingat baik verbal dan visual juga terjadi di kelompok yang mengonsumsi jenis cokelat lainnya. Namun hasilnya berada di bawah kelompok pertama.

Dari penelitian sebelumnya telah diketahui beberapa nutrisi dalam makanan tambahan melepas glukose yang menambah aliran darah yang dapat berpengaruh bagi kemampuan kognitif. Hasil penemuan tersebut mendukung pendapat sebelumnya. Bahkan memperjelas bahwa mengonsumsi cokelat dapat meningkatkan daya kerja otak. (Sumber: lifestyle.okezone.com)

Melatih Disiplin pada Anak

ANAK memiliki disiplin tinggi adalah dambaan setiap orangtua. Namun, tidak mudah mendidik anak untuk bisa mematuhi semua peraturan ayah dan ibunya. Setiap orangtua pasti menginginkan buah hati mereka menjadi anak-anak yang mengerti dan menaati peraturan serta memiliki disiplin tinggi.

Banyak hal tentang disiplin bisa diajarkan kepada anak, misalnya disiplin dalam belajar, beribadah, makan atau minum tanpa harus disuruh, dan si anak bersedia melakukan hal tersebut.

Melatih disiplin pada anak sebenarnya berkaitan erat dengan bagaimana orangtua merespons perilaku si buah hati, dan hal itu akan membentuk tingkah lakunya kelak.

Yang harus dilakukan oleh orangtua adalah mengajar atau mendidik anak agar mengerti konsep baik dalam tingkah laku dan melatih bertingkah laku yang sesuai dengan aturan. Untuk melatih anak bertingkah laku baik, orangtua harus sabar dan sebaiknya mempunyai beberapa aturan.

Aturan pertama yang harus dilakukan adalah mencegah dan menghindari masalah. Sebagai orangtua, cobalah menghindarkan dan mencegah sesuatu yang nantinya dapat menimbulkan kesalahan perilaku yang tidak diinginkan, seperti menyuruh cepat tidur ketika waktu tidur malam belum tiba atau menyuruh makan ketika lewat jam makan.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan contoh yang baik serta sikap positif. Apalagi jika anak berbuat hal yang membuat orangtua marah. Sebaiknya orangtua memberikan pengertian yang dapat diterima tanpa harus menggunakan kekerasan fisik.

"Orangtua juga harus memberikan batasan mana yang salah dan mana yang benar,mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Selain bermanfaat bagi orangtua, juga akan berguna bagi anak karena mereka akan nyaman di setiap aktivitas yang dilakukan," kata psikolog alumni Universitas Indonesia, Dr Aziz Widodo.

Ditambahkan Aziz,orangtua sebaiknya memberikan aturan atau batasan apa yang bisa dilakukan anak dan mana yang tidak boleh dilakukan.

"Ajarkan anak mengucapkan kata tolong ketika dia meminta. Selain itu, dengan kesabaran dan bimbingan orangtua, anak akan belajar membedakan sesuatu yang salah dan benar," terang psikolog bertubuh bongsor itu.

Agar anak mengerti apa yang bisa dilakukan dan yang tidak, orangtua diharapkan mampu mengatakan harapannya kepada anak secara terbuka. "Biasanya karena sayang kepada orangtuanya, anak akan mudah menjalankan aturan jika mendengar harapan-harapan orangtua. Ini dilakukan anak karena ingin membuktikan cintanya kepada orangtua," beber Aziz.

Yang harus diperhatikan orangtua selanjutnya, kata Aziz, adalah konsisten ketika membuat aturan dan konsistensi dalam menjalankan aturan tersebut. Misalnya, hari ini anak disuruh tidur pukul delapan, tetapi besok pukul sembilan. Hal ini dapat mengundang ketidakpatuhan dan hampir tidak mungkin untuk mendisiplinkan anak.

Aturan-aturan dan rutinitas yang telah ditetapkan dalam sebuah keluarga harus terus diterapkan meskipun orangtua dalam keadaan lelah sepulang bekerja.

"?Sikap yang tidak konsisten dapat membuat anak menjadi bingung untuk belajar berperilaku. Jelaskan kepada mereka mengapa ada perubahan dan hanya terjadi pada hal-hal tertentu jika ada peraturan yang berubah," tuturnya.

Yang wajib pula dilakukan orangtua agar anakanak bisa disiplin adalah menunjukkan ketegasan serta jangan terpengaruh jika anak menangis atau merengek ingin melanggar aturan yang telah disepakati.

"Jika orangtua terlalu lunak atau selalu mengalah, anak akan suka membantah. Anak akan menemukan 'sesuatu' untuk mendapatkan respons yang dia inginkan. Lebih baik menunjukkan ketegasan kepada anak, karena jika tidak menekankan batasan yang boleh dia lakukan, maka kita merampas anak untuk mengerti bagaimana bertingkah laku yang baik," papar psikolog anak yang berdomisili di daerah Bogor itu.

Selain itu, pesan akan lebih mudah diterima oleh anak ketika orangtua menyampaikannya secara santai dan sikap yang rasional. Membentak dapat menurunkan mental anak dan anak akan meniru.

Jika terlalu diam, anak akan menganggap apa yang dilakukannya adalah benar dan akan melakukan hal serupa lagi. Batasan yang tegas bakal mengajarkan anak kapan dia harus menghentikan perilaku yang tidak dikehendaki dan menurut pada orangtuanya.

Misalnya dengan mengeluarkan perkataan, "Jangan melempar-lempar mainanmu seperti itu". Batasan tegas seperti itu paling baik jika ditunjukkan dengan suara orangtua yang terdengar tegas seperti komando serta mimik muka yang serius.Batasan yang terlalu lunak alias tidak tegas dapat membuat anak mempunyai pilihan,menurut atau membangkang.

Senada dengan Aziz, Kepala SDN IX Kelapa Gading, Jakarta Utara, Achmad Sholeh mengatakan bahwa anak-anak bisa dengan sukarela menjalankan aturan jika dari awal telah ditanamkan pentingnya nilai-nilai kebaikan.

"?Cara anak bertingkah di sekolah bisa mencerminkan bagaimana dia dididik di rumah," ujar Achmad Sholeh, yang dihubungi beberapa waktu lalu. Menurutnya, di sekolah anak lebih mudah menjalankan aturan dibandingkan di rumah.
Itu karena di sekolah mereka merasa tertantang dan malu pada teman-temannya jika melanggar aturan yang ada. ?"Ada baiknya, di rumah orangtua juga memberlakukan aturan dengan kompensasi atau hukuman apabila si anak melanggar," sarannya. (Sumber: lifestyle.okezone.com)

Minggu, Juli 26, 2009

Yuk Sekolahkan Anak Sejak Dini!

Untuk Anda calon ibu muda, sudah harus memperhatikan pendidikan si kecil sejak dini. Menurut data, perkembangan berpikir anak berkembang pesat saat balita. Ini juga bisa membuat si anak giat sekolah sampai dewasa kelak.

Siang itu matahari bersinar terik. Anisa yang telah memakai seragam merah putih berangkat ke sekolah di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat. Mulutnya terus terkatup, ketika guru memintanya untuk mengulang pelajaran berhitung yang sederhana. Dia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya untuk menjawab beberapa pertanyaan gurunya. Anisa sulit sekali diajak komunikasi. Dia tampak pasif dan penakut. Beda dengan Tomi walau sama-sama kelas satu SD, tapi Tomi lebih berani dan aktif. Anisa dan Tomi hanyalah contoh kecil, anak yang tidak ikut dan ikut PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Mengapa pendidikan anak usia dini menjadi penting? Dari berbagai penelitian tentang anak menunjukkan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun dan sisanya 20 tahun pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.

Data dari Unicef juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mengulang kelas adalah anak-anak yang tidak mengikuti PAUD sebelum masuk SD. Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orang tuanya memasuki SD. Adanya perbedaan yang besar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan usia dini mengalami kejutan sekolah dan mereka mogok sekolah atau tidak mampu menyesuaikan diri sehingga tidak dapat berkembang secara optimal. Ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini.

Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya PAUD (0-6 th) masih rendah, terutama di desa-desa dan daerah pedalaman. Rendah karena kurangnya sosialisasi dan terbatasnya sarana dan prasarana.

Siapapun dan di mana pun mereka, anak-anak punya hak yang sama untuk mengecap pendidikan demi menyongsong masa depan mereka yang lebih baik. Karena dipundak merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan. (Sumber: detikhot.com)